Monday, 21 May 2012

Bila ada pelajaran yang harus segera kau perbarui pengertiannya kepada sahabat terdekat yang namanya diri mu itu, maka pelajaran itu adalah tentang keberanian yang didasari oleh pengertian yang baik.

 
 
Main Menu
Home
Hubungi Kami
Kamus Online
Percakapan
Menyimak
Resensi
Latihan
Artikel Umum
Agenda Bersama
« < May 2012 > »
S M T W T F S
29 30 1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31 1 2
Konsultasi Online
Dhuyufuna
 
Manisnya Iman, Sudahkah kita Merasakannya? PDF Print E-mail
Abbas bin Abdul Muthalib berkata, saya mendengar Rasulullah saw. bersabda, "Orang yang akan menikmati manisnya iman adalah orang yang ridha Allah swt. sebagai Tuhannya, Islam sebagai agamanya dan Muhammad sebagai rasulnya." (HR Muslim)

Orang yang ridha kepada Allah swt. adalah orang yang akan menikmati manisnya iman. Saudaraku, coba renungkan kata 'menikmati'  dalam hadits di atas. Rasulullah saw. mengibaratkan iman layaknya makanan yang mempunyai cita rasa, dan yang dapat menikmatinya adalah orang-orang yang dalam hatinya tersimpan dalam hatinya rasa ridha dan puas, tidak hanya ucapan di mulut belaka.  
 
Sering kali kita mendapati orang yang gemar mengucapkan rasa ridhanya atas karunia Allah swt., tapi itu hanya sebatas di bibir, belum sampai merasuk ke dalam hatinya.  Dan mungkin kita juga melakukan hal yang sama. Kita mengucapkan, "Saya ridha Allah swt. sebagai Tuhanku, tapi kita tidak memahami bahwa sebagai konsekuensi dari perkataan itu adalah kita mesti ridha segala sesuatu yang telah ditetapkan Allah swt. pada diri kita, ridha atas takdirnya dan ridha atas rezeki yang dianugerahkan kepada kita."

Siapapun yang menginginkan  manisnya iman, ia harus ridha Allah swt. sebagai Tuhannya. Dengan demikian, ia juga akan ridha dengan segala sesuatu yang telah ditetapkan Allah swt. padanya. Hanya Allah swt. yang bisa memberikan rezeki dan pertolongan, tidak ada yang lain selain Dia.  

Janganlah kita lupa akan tujuan Allah swt. menciptakan kita, dan jangan sampai apa yang diciptakan Allah swt. membuat kita lalai untuk beribadah kepada-Nya. Dalam hadits Qudsi, Allah swt. berfirman, "Hambaku! Aku menciptakanmu demi Aku, dan aku menciptakan dunia demi kamu, maka dunia yang Aku ciptakan ini jangan sampai membuatmu lalai dari-Ku. "

Saudaraku, kala kita sudah ridha kepada Allah swt. dan segala permasalahan kita serahkan kepada-Nya, maka rasa aman, damai dan tenggang akan dapat kita rasakan. Kita tidak akan pernah merasa galau saat mengingat masa lalu, dan kita juga tidak akan diselimuti rasa takut saat menatap masa depan. Inilah wujud dari surga dunia, sebagaimana yang dikatakan Ibnu Qayyim, "Ridha adalah pintu Allah swt. yang paling agung. Tempat istirahatnya orang-orang yang ahli ibadah dan wujud dari surga dunia. Siapa yang selama hidup di dunia belum pernah menikmatinya, ia tidak akan menikmatinya di akhirat."
 
< Prev   Next >

Langganan Newsletter
Home arrow Artikel Umum arrow Manisnya Iman, Sudahkah kita Merasakannya?
 
www.kursusbahasaarab.net - Cara Muda Mempelajari Bahasa Arab On line dan off line