|
Allah adalah al-Ghaffaar, Dzat yang Maha Pengampun, dan al-Afuwwu, Dzat yang senantiasa memberi maaf. Dia selalu menyeru kepada umat manusia agar kembali dan bersimpuh di hadapan-Nya. Karena itu, Allah swt. mengutus seorang nabi untuk membimbing umatnya, dan memberi waktu-waktu istimewa yang dapat dipergunakan untuk mengadu dan mengakui kealpaannya. Dalam hadits qudsi, Allah berfirman "Setiap hari lautan meminta izin kepada Tuhannya seraya berkata, 'Wahai Tuhanku, berilah izin kepadaku untuk menenggelamkan anak cucu Adam, ia makan rezeki dari-Mu, tapi ia menyembah kepada selain-Mu.' Langit juga memohon izin kepada Allah seraya berkata, 'wahai Tuhanku, berilah izin kepadaku untuk menelungkupkannya, ia makan rezeki dari-Mu, tapi ia menyembah kepada selain-Mu.' Bumi juga memohon seraya berkata, 'Wahai Tuhanku, izinkan kepadaku untuk menelan anak cucu Adam, ia makan rezeki dari-Mu, tapi ia menyembah kepada selain-Mu.' Mendengar permohonan mereka, Allah swt. menjawab, 'Biarkan mereka, kalau Aku sudah menciptakan mereka, Aku harus mengasihinya." Saudaraku, begitu besarkah dosa yang kita lakukan, begitu hinakah perilaku yang sering kali kita tampakkan, begitu busukkah hati kita sampai langit pun tidak tahan lagi melihat kita di alam ini?! Meskipun demikian, Allah swt. tetap memberi ampunan, menurunkan rezeki dan membentangkan pintu maaf-Nya kepada kita.
Subhanallah! Maha Suci, Engkau ya Allah, yang telah menciptakan makhluk, dan Engkau yang memberi rezeki kepadanya meskipun mereka banyak yang mendurhakai-Mu dan melupakan-Mu. Dalam hadits qudsi, Allah swt. berfirman, "Sesungguhnya Aku, manusia dan jin dalam suatu tempat yang agung. Aku yang menciptakannya, tapi ia menyembah selain-Ku. Aku yang memberinya rezeki, tapi ia bersyukur kepada selain-Ku. Kebajikan-Ku selalu turun kepada hamba-hamba-Ku, tapi keburukan mereka selalu naik kepada-Ku. Aku berikan rahmat dan cinta-Ku kepada mereka, meskipun Aku tidak membutuhkan mereka, tapi mereka menampakkan kemurkaannya kepada-Ku dengan melakukan ragam kemaksiatan, sementara mereka amat membutuhkan-Ku. Orang-orang yang ahli zikir, merekalah yang senantiasa duduk bersama-Ku. Maka, barang siapa yang ingin duduk bersama-Ku, hendaknya ia berzikir. Orang-orang yang taat atas perintah-Ku, merekalah yang mendapat kasih sayang-Ku. Orang-orang yang senantiasa melakukan kedurhakaan kepada-Ku, Aku tidak pernah memutus rahmat-Ku terhadap mereka. jika mereka mau kembali kepada-Ku, sungguh Aku akan mencintainya. Jika mereka enggan kembali kepada-Ku, Aku adalah dokternya, dan Akulah yang menurunkan musibah kepadanya untuk membersihkan diri mereka dari berbagai dosa dan cela. Satu Kebajikan akan Aku lipatkan menjadi sepuluh kali lipat dan Aku akan menambahnya, dan keburukan akan Aku balas sebanding dengannya bahkan Aku akan mengampuninya. Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, jika hamba-hamba-Ku mau memohon ampun, pasti Aku akan mengampuninya. Siapapun yang datang kepada-Ku seraya ingin bertobat, Aku akan menjemputnya dari kejauhan, dan barang siapa yang berpaling dari-Ku, Aku akan memanggilnya dari dekat, dan Aku akan katakan kepadanya, 'Wahai hamba-Ku, ke mana engkau akan pergi? Apakah engkau mempunyai Tuhan selain Aku?!
Dan dalam hadits yang bersumber dari Abu Hurairah ra. disebutkan bahwa ia berkata, aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, "Seorang hamba telah melakukan dosa, lantas ia berucap, 'wahai Tuhanku, aku telah berbuat dosa, maka ampunilah aku.' Lantas Tuhannya menjawab, 'hamba-Ku telah mengetahui bahwa ia memiliki Tuhan yang akan mengampuninya, sungguh Aku telah mengampuni hamba-Ku.' Lantas seorang hamba tersebut berdiam sekian lama, dan ia pun melakukan dosa lagi lantas berkata, 'wahai Tuhanku, aku telah berbuat dosa, maka ampunilah aku.' Lantas Tuhannya menjawab, 'hamba-Ku telah mengetahui bahwa ia memiliki Tuhan yang akan mengampuninya, sungguh Aku telah mengampuni hamba-Ku.' Lantas seorang hamba tersebut berdiam sekian lama, dan ia pun melakukan dosa lagi lantas berkata, 'wahai Tuhanku, aku telah berbuat dosa, maka ampunilah aku.' Lantas Tuhannya menjawab, 'hamba-Ku telah mengetahui bahwa ia memiliki Tuhan yang akan mengampuninya, sungguh Aku telah mengampuni hamba-Ku.'" (HR Bukhari)
Dan dengan jelas dan tegas, Allah swt. memberi pernyataan atas kemurkaan-Nya terhadap arang-orang yang ogah, sombong, congkak dan enggan untuk kembali dan mengakui kesalahannya. Melalui lisan baginda rasul, Allah swt. berfirman, "Aku tidak pernah murka yang melebihi murka-Ku kepada seorang hamba yang melakukan kemaksiatan, dan ia menganggap bahwa kemaksiatannya itu lebih besar dari pada ampunan-Ku."
Saudaraku, sebesar apa pun dosa yang kita lakukan, jangan sampai mendorong kita untuk mengucapkan, sesungguhnya dosa-dosaku amat besar, dan tidak mungkin Allah akan mengampuniku. Jangan, jangan sampai kita ucapkan kalimat tersebut! Tidak ingatkah kita dengan firman Allah "Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (az-Zumar : 53)
Jangan sampai kita lupa, bahwa masih ada Dzat yang Maha Pemaaf dan Pengampun. Dialah yang akan memberi maaf. Iya, Dialah yang akan memberi maaf atas segala dosa dan kesalahan kita.
Lihat dan renungkan lagi firman Allah swt., "Ia menganggap bahwa kemaksiatannya lebih besar dari pada ampunan-Ku." Sungguh begitu besar dan agungnya ampunan Allah, sampai Dia marah tatkala ada seorang hamba yang menganggap bahwa dosanya lebih besar dari pada pengampunan-Nya.
Dalam haditsnya, Rasulullah saw. bersabda, "Sesungguhnya Allah Maha Pemalu dan Maha Mulia, Dia malu sekiranya ada hamba-Nya yang menengadahkan tangannya, tapi Dia membalasnya dengan tangan hampa (baca: tidak dikabulkan)." (HR Tirmidzi)
Anas bin Malik berkata, ketika Rasulullah saw. membaca ayat, "Dia (Allah) adalah Tuhan yang patut (kita) bertakwa kepada-Nya dan berhak memberi ampun." Allah berfirman, "Aku adalah Dzat yang pantas untuk ditakuti. Barang siapa yang takut pada-Ku, dan tidak menjadikan Tuhan selain-Ku, maka Aku akan mengampuninya." (HR Tirmidzi)
Dalam salah satu riwayat disebutkan, bahwasanya jika ada seorang hamba yang menengadahkan tangannya ke langit, sementara ia adalah orang yang gemar berbuat maksiat lantas berkata, 'wahai Tuhanku' maka, malaikat menghalang-halangi suaranya. Hamba itu mengulanginya lagi seraya berkata, 'wahai Tuhanku' malaikat juga tetap menghalang-halangi suaranya. Dia mengulanginya lagi, 'wahai Tuhanku' malaikat juga tetap menghalang-halangi suaranya. Sampai untuk yang ke empat kalinya ia mengucapkan, 'wahai Tuhanku' lantas Allah berfirman kepada malaikat, 'Sampai kapan kalian akan menghalang-halangi suara hamba-Ku yang terus memanggil-Ku. Selamat datang wahai hamba-Ku, Selamat datang wahai hamba-Ku, Selamat datang wahai hamba-Ku, Selamat datang wahai hamba-Ku.'
Renungkan untuk sesaat jawaban Allah swt. atas panggilan hamba-Nya yang mau kembali kepada-Nya sampai empat kali, 'Selamat datang wahai hamba-Ku'. Allah melakukan semua itu karena hamba-Nya telah memanggil-Nya sebanyak empat kali, 'wahai Tuhanku, 'wahai Tuhanku , 'wahai Tuhanku , 'wahai Tuhanku.'
Dengan keagungan dan kebesaran-Nya, Allah swt. menjawab panggilan hamba-Nya yang lemah, durhaka dan belepotan dengan segala dosa dan maksiat, 'Selamat datang wahai hamba-Ku.' Sementara hamba tersebut dalam keadaan lalai. Setelah kita mengetahui bagaimana sambutan Allah swt. atas hamba-Nya, apakah hati kita tetap mengeras? Apakah hati kita belum melunak dan rindu untuk kembali kepada Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Pengampun, Tuhan yang senantiasa menjawab panggilan hamba-hamba-Nya, bahkan terhadap orang-orang yang telah melumuri hidupnya dengan noda dan dosa. Apa yang tersimpan dalam hati kita, saat kita mendengar kalimat, "Selamat datang wahai hamba-Ku?"
Senyampang masih ada kesempatan, mari bersegera kembali bersimpuh dan meratap di hadapan-Nya. Hentikan segala durhaka dan kemaksiatan. Sudah terlalu banyak dosa yang kita lakukan, sudah terlalu sering tutur kata kita yang meyakiti hati teman, sahabat bahkan kedua orang tua kita sendiri. Cukup, cukuplah semua itu sebagai masa lalu yang patut dijadikan pelajaran, mari kita mulai kehidupan baru, yang sesuai dengan bimbingan dan tuntunan dari ar-Rasul, Muhammad shallallahu ‘alahi wa sallam dan sejalan dengan tujuan peciptaan umat manusia.”Dan tidalah Aku mencipatakan manusia dan jin kecuali untuk mengabdi kepada-Ku.” |